Bahasa yang sederhana dari ghibah adalah mengumpat, menggunjing, ngerumpi atau membicarakan orang lain.    Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendegar saudara, sahabat, atau bahkan orang tua kita, membicarakan tentang seorang saudara seiman yang lainnya. Biasanya, mereka ini, merasa tidak bersalah dan didahului dengan untaian ‘kalimat sakti’ sebelum membicarakan orang lain.

Biasanya kalimatnya begini “Bukan bermaksud menjelekkan dia tapi kenyataannya dia…” sering juga begini “Bukan bermaksud mengungkit, tapi dia itu…”. Masih banyak lagi kalimat yang sejenis dan tujuannya sama yaitu membicarakan keburukan saudaranya atau orang lain.

Itulah salah satu perbuatan ghibah. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Ghibah atau menggunjing ini tidak hanya sebatas lisan saja, namun bisa terjadi dengan tulisan atau yang lebih dikenal dengan istilah ghibah di berbagai media sosial (medsos), memang kerap terjadi tanpa disadari.

Ghibah adalah termasuk dalam dosa besar sesuai dengan firman Allah dalam Alquran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah sebagian kalian menggunjing/ mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati ? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.Al Hujurat : 12).

Bahkan, hadis Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, (dan juga kehormatan kalian) semua itu adalah haram atas kalian sebagaimana kesucian hari kalian ini (hari ‘Arafah), pada bulan kalian ini dan di negeri kalian yang suci ini.

Di antara orang orang yang jatuh pada perbuatan ghibah dan solusinya sebagai berikut:

1 . Sebagai pelampiasan amarah kepada seseorang yang memicu kemarahannya. Solusinya adalah sadar bahwa Allah mencintai orang yang pemaaf dan jangan mudah terbawa emosi serta menuruti bisikan setan.

2 . Sebagai pembelaan atau membantu teman untuk ghibah. Solusinya adalah dengan mengingat sabda Rasulullah yang artinya, “Barangsiapa meminta keridhaan orang dengan sesuatu yang dimurkai Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia” (HR Tirmidzi).

3 . Mengangkat pamor, dengan merendahkan orang lain, lalu dia mengatakan, “Si Fulan itu jahil”. Solusinya adalah sadar bahwa Allahlah yang mengangkat derajat seseorang.

4 . Bersenda gurau. Solusinya adalah segera sadar bahwa menghinakan saudaranya muslim adalah haram dan Rasulullah melarangnya. “Celakalah orang yang berbicara dengan sesuatu yang dusta agar kaumnya menertawakan ucapannya. Celakalah dia, lalu celakalah dia” (HR Abu Dawud)

5 . Iri dan dengki. Solusinya adalah dengan mengingat hadis Rasulullah saw yang artinya “Dua hal yang tidak akan berkumpul dalam hati seseorang adalah iman dan dengki” (HR. an-Nasa’i)

Sedangkan buruk sangka atau syu`udzon adalah kebalikan dari baik sangka atau husnu dzon. Buruk sangka merupakan salah satu penyakit jiwa, dan termasuk pula sifat tercela. Orang yang dihinggapi penyakit buruk sangka selalu curiga terhadap orang lain. Jika ada orang lain sedang bercakap-cakap lalu disangka sedang mempercakapkan keadaan dirinya. Jika ada orang yang mendapat keuntungan disangkanya orang itu memperoleh keuntungan dengan cara-cara yang tidak baik.
Buruk sangka adalah juga merupakan perbuatan dosa, sebagaimana dalam surat At-Taubah : 12 Artinya : Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (At-Taubah : 12)

Karena itu, umat Islam harus menjauhi ghibah dan syu’udzon. Islam itu tinggi dan tidak yang lebih tinggi dari itu. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan mengerjakan seluruh perintah Allah SWT dan meninggalkan seluruh larangan Allah SWT.

 

 

Sumber :

https://sivitasakademika.wordpress.com/2015/06/22/hindari-bergunjing-ghibah/

http://www.islamnyamuslim.com/2013/11/bahaya-ghibah-dan-solusinya.html

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/11/06/og774m396-hindari-ghibah-dan-syuudzon

Comments